Tampilkan postingan dengan label baju lurik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baju lurik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2012

Bangkitkan Kembali Lurik Pedan Klaten.... #lurikcampaign

Kain lurik dengan motif garis-garis vertikal memanjang merupakan salah satu nama besar yang lahir dari salah satu kecamatan di sudut Kabupaten Klaten yang bernama Pedan. Dulu menurut cerita, lurik menjadi salah satu primadona. Industri Lurik Pedan pernah sangat berjaya kala itu, sekitar tahun 1950an hingga akhirnya sekarat karena serbuan kain-kain dengan warna memikat serta murah.

Setelah beberapa masa terpuruk, kini lurik mulai menggeliat. Program Lurikisasi yang diusung Pemkab Klaten dengan mengeluarkan kebijakan agar karyawan Pemkab Klaten mengenakan lurik Pedan sebagai seragam pada hari Kamis tentu saja bukan hanya bisa mengangkat kembali nama lurik, tapi juga potensi ekonomi lokal. Salah satu kebijakan diambil dengan cukup jeli. SALUT!

Kain Lurik Pedan dibuat dengan menggunakan bahan benang katun yang ditenun dengan alat tenun tradisional (ATBM). Sedangkan untuk proses pewarnaan dimulai dari benangnya, sehingga setelah benang ditenun sempurna maka warna kain depan dan belakang adalah sama. Corak-corak dari lurik sendiri cenderung vertikal memanjang. Namun corak tersebut tidak hanya monoton begitu saja. Akhir-akhir ini banyak desain-desain menarik yang coba dikembangkan oleh para pengrajin dengan desain motif yang tidak selalu berbentuk vertikal lurus dan memanjang namunada aplikasi-aplikasi lain yang membuat kain lurik ini kian menarik. Salah satu pengembangan dari kain lurik adalah menambahkan batik di atas kain lurik tersebut, sehingga terciptalah Lurik Batik yang unik sekaligus memikat. 

Melihat bagaimana Pemkab Klaten untuk kembali mengangkat nama lurik ke pasaran, tentu saja upaya ini perlu didukung oleh semua pihak, terutama warga Klaten sendiri, termasuk saya. Ya, tentu saja saya berharap lurik ini kembali menemukan masa-masa jayanya kembali. Semoga!......#lurikcampaign 

follow my twitter @dicky_tinton

Sekelumit Kisah Lurik Pedan Klaten

Tahun 1950-an adalah saat-saat menyenangkan bagi pemuda Rachmad. Lahir dari keluarga pengusaha tenun, ia termasuk sedikit dari orang-orang beruntung karena bisa mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Apalagi, ia hanya berasal dari Pedan, sebuah kota kecamatan di pedalaman Klaten, sekitar 25 kilometer di selatan Surakarta.
Seperti umumnya pemuda kelas menengah, dia juga pernah dijangkiti ‘penyakit’ bosan sekolah sehingga ia keluar dari UI. Ia sempat pindah ke Fakultas Ekonomi Universitas Nasional, meski hanya dijalaninya selama tiga tahun. Di jurusan baru itulah, ia menemukan pilihan hidup baru. Ia mempraktekkan pengetahuan yang diperolehnya untuk mengembangkan usaha tenun lurik Atmo Prawiro, yang tak lain ayah kandungnya sendiri. Mulailah ia mencermati gaya hidup orang kota, seperti mode pakaian para tokoh dan kaum kaya juga jenis bahan yang mereka kenakan.

“Saya pernah membeli setelan jas terbuat dari wool untuk saya jiplak,” ujar Rachmad terkekeh, mengenang peristiwa tahun 1954 itu. Pulang ke Pedan, ia sudah memperoleh rumus jumlah benang yang harus dianyamnya dengan menggunakan mesin ayahnya. Singkat cerita, jas asli yang terbuat dari wool dengan motif kotak-kotak hitam-putih itu berhasil dibuatkan tiruannya. “Supaya tak melanggar hak cipta, saya menambahkan jumlah benang sehingga motifnya menjadi lebih besar dibanding aslinya,’ tuturnya. Lalu, jadilah setelah jas berbahan katun. Sekilas, kedua jenis bahan itu sulit dibedakan secara visual. Namun, ketika saya coba merabanya -seperti ditunjukkan Rachmad, 1 Agustus lalu, barulah saya tahu bedanya.
Di Pedan, ‘industri’ tenun lurik manual kini tersisa dua. Satu milik Rachmad yang mempekerjakan 70 orang -kebanyakan berusia lanjut, dan Ibu Diro yang skalanya lebih kecil. Sementara usaha Ibu Diro terseok-seok karena masih bertahan dengan jenis dan motif tradisional -seperti selendang dan jarik-, yang mulai kurang diminati, Rachmad masih menyukai eksperimen.
Pada pertengahan 1980-an, ia keliling Bali dan menjajakan beberapa contoh barang produksinya, yang ketika itu dia buat dengan zat pewarna alami seperti dari dedaunan atau kulit buah mahoni. “Di Bali, saya bertemu orang Jerman. Dia langsung memesan dalam jumlah besar,” kenangnya.
Boleh jadi karena kampanye lingkungan sangat kuat di negeri-negrei barat, produk Rachmad cepat ludes di pasar luar negeri. “Yang saya dengar, kain buatan saya dijual seharga US$ 500 per meter,” ujarnya. Padahal, kepada orang Jerman itu, Rachmad hanya menawarkan harga Rp 5.000 per meter. Meski tahu harga jualnya, Rachmad tak menyesal atau kemaruk meraup untung besar. “Yang penting, produksi kami lancar,” imbuhnya.
Dan, benar. Dari perkenalan itulah, omzet usahanya bisa mencapai Rp 100 juta hingga Rp 120 juta per bulan. Padahal, masa itu merupakan saat paceklik bagi industri tenun. “Akibat banyaknya mesin-mesin tekstil yang menyerbu Indonesia, saya sempat beralih pekerjaan sebagai pemborong padi di Karanganyar. Usaha kami collapse,” tuturnya. Perkenalannya dengan pembeli asal Jerman itu, jelas menjadi sebuah berkah tak ternilai bagi Rachmad, yang pada akhir 1960-an sudah sanggup membeli sepeda motor BMW seri R-27.
Kian lama, kain-kain produksi Rachmad kian diminati konsumen. Pesanan mengalir bukan hanya dari Jerman, namun juga Jepang, Amerika dan beberapa negara Eropa lainnya. Beberapa pemesan, bahkan sangat percaya kepada kepiawaian Rachmad meramu benang-benang buatan dengan pewarna hasil eksperimennya. Kadang-kadang, pemesan hanya mengirim motif kasar melalui faksimili dengan sejumlah catatan dan keterangan yang dikehendakinya. Usahanya pun kerap menjadi ajang observasi atau praktek lapangan mahasiswa jurusan tekstil atau desain interior dari beberapa perguruan tinggi ternama seperti Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) atau Institut Teknologi Bandung (ITB).
Malah, tak jarang mahasiwa datang hanya berbekal uang. “Mereka cuma mempresentasikan keinginannya dan kami yang membuatnya. Mahasiswa tinggal pulang membawa hasil untuk dipresentasikan dalam ujian tugas akhir, lalu jadilah mereka sebagai sarjana,” ujarnya terkekeh.
Tapi, itu hanyalah sepenggal kisah manis masa lalu. Sebab, kini tenun lurik sudah sekarat, digerus kecenderungan konsumen yang kian pragmatis. Bahan-bahan katun, wool, linen atau polyester keluaran pabrik-pabrik modern, jelas memiliki karakteristik yang berbeda dengan kain yang dibuat dengan mesin tenun manual milik Rachmad. Meski menggunakan jenis benang yang sama, hasilnya akan sangat nyata bedanya.
Satu hal yang masih menjadi semangat berkaryanya, hanyalah keinginannya tetap mempertahankan keberadaan tenun lurik Pedan. Kalaupun masih ada siswa sekolah mode bergengsi di Jakarta yang menyambanginya, hal itu hanyalah menjadi pelipur lara. Begitu pula, ketika beberapa motif kainnya dibeli orang Amerika lalu ditambahkan label Ocean Pacific sebelum beredar di butik-butik mahal di kota-kota besar.
Kini, ia tinggal menjadi satu-satunya penjaga agar lurik Pedan tak segera menjadi catatan sejarah. Satu matanya sudah rusak, dan satu lagi terkena katarak akut. Ia menolak dilakukan operasi. “Kalau gagal, dan saya menjadi buta, siapa yang akan mengawasi tenun saya?” ujarnya. Maklum, dari enam anaknya, hanya satu yang tertarik meneruskan usahanya

Jumat, 03 Februari 2012



Kemeja Lurik Ungu Maroon (KLUM)
Price: Rp. 135.000,-


Untuk Pemesanan
Bisa Melalui Inbox/SMS 0878 39 123 222
Dengan Format:
Kode/Nama Barang (spasi) Nama Lengkap (Spasi) Alamat Lengkap (Spasi) Nmr HP

Harga yang tertera belum termasuk Ongkir,
Pembayaran dilakukan 2 X 24 Jam Setelah Order, Bila tidak ada konfirmasi dianggap batal.
Barang dikirim setelah pembayaran dilakukan (jaminan 100% uang kembali jika barang tidak dikirim)

Pengiriman melalui TIKI/JNE untuk biaya kirim bisa check di http://www.jne.co.id/